Bendera Bangsaku

SELAMAT DATANG SOBATKU DI BLOG MAMAT/UCOK/RONI PUTERA JAWA KETURUNAN SUMATERA, ALLAH KUASA MAKHLUQ TAK KUASA LAILAHAILLALLAH MUHAMMADURRASULULLAH

Mendidik Anak dengan Cerdas

Membentuk kecerdasan buah hati dengan hadiah

Bahasan pertama yang akan saya ketengahkan ini, mengangkat tema seputar pemberian hadiah untuk anak demi terbentuknya kreativitas mereka. memberi imbalan sebagai bentuk dukungan adalah cara yang tepat dalam mencetak anak kreatif. Pembahasan inilah yang akan mewarnai halaman-halaman selanjutnya dalam bab ini.
1. Prinsip keseimbangan 
Hadiah, support dan menunjukkan rasa sayang yang diungkapkan dengan sepenuh hati semuanya bisa mendorong anak untuk kreatif, sukses dan berprestasi. Memberi imbalan memang penting dalam proses pendidikan anak. Akan tetapi, harus juga memperhatikan keseimbangan (balance) antara imbalan yang bersifat materi dan maknawi. Lebih banyak memberikan imbalan materi saja, misalnya, akan membuat anak menjadi pragmatis atau oportunis, yang tidak mau melakukan kebaikan tanpa imbalan.
 Di Tengah-tengah peperangan 
Kita harus memikirkan imbalan apa yang akan kita berikan kepada anak ketika ia melakukan sesuatu dengan baik. Inilah Shalahuddin Al-Ayyubi ditengah-tengah peperangan, ketika ia sedang mengadakan inspeksi ke kamp tentaranya, ia melewati seorang anak kecil yang sedang membaca Al-Quran dengan tartil di depan ayahnya. Peperangan tidak melalaikan Shalahuddin untuk memberi imbalan kepada anak tersebut. Ia memberikan jatah makanannya kepada anak itu, dan mewakafkan sebagian kebunnya untuk ayah dan anaknya tersebut.
“Engkau wahai ayah, janganlah peperangan ini melalaikanmu untuk memberi pujian terhadap anakmu atas usahanya yang baik itu. Karena pujianmu bisa membuatnya senang, dan mendorongnya untuk kreatif dan berprestasi.”
Imam Al-Ghazali berkata di dalam bukunya Ihya Ulumud-Din, “Setiap kali anak berbuat kebaikan dan terpuji, maka berilah ia imbalan yang membuatnya senang, dan pujilah ia di depan orang lain.”
 Support yang baik
Sebuah majalah di Inggris pernah mengadakan perlombaan menulis tentang faktor yang menjadi pendorong tumbuhnya ilmu pengetahuan dan moral sekaligus. Perlombaan tersebut dimenangkan oleh seorang penulis wanita terkenal yang menulis, “Sesuatu (faktor) itu adalah support (dukungan yang baik). Dialah yang telah menjadikan saya menjadi penulis terkenal saat ini. Dialah yang telah menggenjot semangat saya untuk maju terus kedepan....”
Contohnya, ketika anak anda menggambar di dinding rumah, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan marah? Jika anda marah, itu sama saja membuat anak anda tidak suka menggambar, dan menghalangi kreatifitasnya. Atau anda akan mengatakan, “Tidak sayang, kalau mau menggambar, di buku gambar saja ya! Nanti dindingnya jadi kotor, kan tidak enak dilihatnya. Kalau menggambar di buku gambar kan nanti bisa ditempel di dinding. Begitu ya sayang!” dengan sikap demikian, anak pun akan membalasnya dengan sikap yang baik pula.
Banyak cara yang bisa anda lakukan dalam memberi imbalan kepada anak diantaranya adalah memberi ciuman; memanggilnya dengan panggilan yang indah; memberi imbalan materi (dengan memperhatikan prinsip-prinsipnya); menceritakan kisah; memaafkannya ketika berbuat salah.
Kita juga perlu memuji anak didepan orang lain; membiarkan anak bermain; menyayangi anak sepenuh hati; menyambutnya dengan sambutan yang baik; memandang, tersenyum dan membelai anak; menghadiahkan sesuatu untuk anak; menerima pendapatnya; menemaninya ketika keluar rumah; dan terakhir, tidak membeda-bedakan anak. Berbagai hal tersebut akan kita uraikan secara rinci pada pembahasan berikutnya.
2. Memberi ciuman
Memberikan ciuman adalah salah satu dari sunnah Rasulullah saw. Ciuman bisa menambah rasa cinta dan kasih sayang. Selain itu, bisa menjadi dukungan yang baik bagi anak, dan mendorongnya untuk mau melakukan apa yang kita minta. Ciuman diberikan ketika anak akan pergi sekolah, ketika pulang, ketika bermain bersama kita, dan ketika anak melakukan sesuatu yang baik. Semuanya itu mempunyai pengaruh yang besar dalam membangun suasana yang penuh cinta dan kasih sayang antara orang tua dan anak.
 Aku belum pernah mencium mereka
Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah mencium Al-hasan dan Al-Husein di depan seorang sahabat bernama Al-Aqra’ bin Habis Al-Taimi yang sedang duduk. Melihat kejadian itu Al-Aqra’ berkata, “Aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi tidak seorang pun pernah aku cium.” Rasulullah pun memandangnya sambil menjawab, “Siapa yang tidak menyayangi tidak akan disanyangi.”
 Apakah anda suka mencium putra-putri anda?
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari bahwa seorang arab gunung pernah mendatangi Rasulullah saw, dan ia bertanya kepada beliau, “Apakah kalian suka menciumi anak-anak kalian? Adapun kami tidak pernah melakukan hal seperti itu.” Beliau menjawab, “Apakah kamu berharap agar Allah mencabut kasih sayang dari hatimu?”
 Bukan untuk memanjakan 
Ingat yang terbaik adalah pertengahan. Tidak terlalu berlebihan di dalam menampakkan perasaan adalah suatu hal yang harus dilakukan, dan itu sangat penting. Ciuman yang kita berikan bertujuan untuk membuat anak merasa hangat, nyaman dan disanyangi. Namun, jika melebihi batas itu bisa membuatnya merasa dimanja sehingga ciuman bukan lagi menjadi cara untuk membuat anak kreatif melainkan menjadi anak manja.
Diantara bentuk memanjakan anak, seperti:
1. Sering menggendongnya, dan tidak mau meninggalkannya, baik dikarenakan suatu sebab ataupun tidak.
2. Tidak menegurnya ataupun menghukumnya ketika berbuat salah karena khawatir yang berlebihan terhadap anak.
 Akibat memanjakan anak
Memanjakan anak mempunyai efek negatif terhadap mentalnya. Diantaranya, seperti ketika anak tumbuh besar ia akan merasa minder terhadap teman-temannya (inferiority complex). Anak merasa tidak bisa melakukan apa-apa karena ia tidak punya kepercayaan diri untuk melakukannya.
Ia merasa teman-temannya lebih unggul dari pada dirinya yang merasa terus tertinggal. Ia melihat teman-temannya bisa bersabar ketika ditimpa kesulitan, sedangkan dirinya hanya bisa menangis. Ia menganggap teman-temannya adalah orang-orang yang supel dan pandai bergaul, sedangkan dirinya adalah orang yang tertutup dan kaku untuk bergaul.
 Pertengahan adalah solusinya
Maka dari itu, pertengahan adalah wilayah aman di dalam proses mendidik anak. Jangan terlalu keras, tetapi jangan juga terlalu memanjakan. Biasa-biasa saja dalam memperlakukan anak dan menampakkan perasaan kita kepada mereka.
3. Memanggil dengan panggilan yang indah 
Diantara hak anak yang menjadi kewajiban kita adalah memilihkan dan memberikannya nama yang bagus. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya, diantara hak anak yang menjadi kewajiban orang tuanya adalah memberikan nama yang bagus untuknya, dan mendidiknya dengan baik.”
Maka dari itu, diantara faktor pembentuk kepercayaan diri (self confidence) anak, dan menumbuhkan semangat hidup pada dirinya adalah dengan cara memanggilnya dengan panggilan yang paling disukainya atau dengan sifat baik yang dimilikinya, maka panggilan yang baik adalah sebagai bukti kasih sayang orang tua pada anaknya. 
Nabi saw, sering memanggil Aisyah ketika ia berumur dua belas tahun dengan panggilan, ya Aisy. Itu dalam kultur Arab untuk menandakan sayang, seperti Hamadah untuk Muhammad, Amurah untuk Umar, dan Khalud untuk Khalid.
Seseorang pernah datang kepada Umar bin Khathab, ia mengadukan perihal penentangan anaknya. Sang anak berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, Bukankah anak mempunyai hak yang menjadi tanggung jawab ayahnya?” Umar menjawab, “benar” Anak itu bertanya lagi “Apakah itu wahai Amirul Mukminin?” Umar pun menjawab, “Memilihkan Ibu yang baik, memberikan nama yang bagus dan mengajarkannya Al-Quran. “Sang anak pun meneruskan ucapannya, “Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak melakukan satu pun dari yang engkau sebutkan tadi. Ibuku seorang budak yang sebelumnya milik seorang majusi, ia memberiku nama Ju’la (kumbang), dan tidak pernah mengajarkan kepadaku Al-Quran walaupun satu huruf.” Umar langsung menoleh kearah sang ayah yang tadi pertama kali mengadu, dan berkata, “Engkau datang kepadaku untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah lebih dahulu durhaka kepadanya sebelum ia durhaka kepadamu, dan engkau telah menyakitinya sebelum ia menyakitimu.”
Jangan pernah sekali-kali anda memanggil anak dengan panggilan yang jelek, sekalupun anda saat itu sedang sangat marah kepadanya. Karena para psikolog berpendapat bahwa ketika anda memanggil anak dengan suatu panggilan tertentu, panggilan tersebut akan terekam dalam otak memori anak. Maka ketika anda memanggilnya ‘hai tolol’, anak akan menganggap dirinya benar-benar tolol. Atau ketika anak anda menjatuhkan hiasan dari atas meja. Anda marah dan menyebutnya ‘si perusak’. Alih-alih membantunya untuk tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut, justru yang anda lakukan adalah menjatuhkan pribadinya/mentalnya. Anak anda pun tidak tahu diperbuatnya, sedangkan anda tidak memberikannya kesempatan untuk belajar tentang kebenaran dari kesalahan yang telah dilakukannya. Anda pun telah mengajarkannya kosa-kata baru yang akan ia rekam dalam memorinya, kemudian akan ia gunakan panggilan jelek itu kepada teman-temannya ketika ia marah.
Sekedar memanggil nama anak dengan cara yang baik, sebenarnya merupakan salah satu wasilah untuk memberikan semangat kepada anak untuk menjadi lebih baik lagi. Setiap kali ia melakukan kebaikan, kita tambahkan panggilan yang indah sebagai pujian yang kita berikan untuk mereka. seperti, “Wah, Rifki yang saleh hebat yah, Aisyah yang shalehan pinter deh!”
4. Memberikan imbalan materi
Anak-anak sangat menyukai hadiah, dan menyukai orang yang memberinya, karena anak senang terhadap orang yang memperhatikan dan menghargai dirinya. Walaupun hadiah tersebut hanya berupa permen, pena, mainan sederhana, atau penggaris. Yang penting anak sangat menunggu-nunggu diberi hadiah. Oleh karena itu, imbalan atau pun hadiah bisa menjadi salah satu cara untuk mensupport anak agar lebih baik lagi.
Anak tetapi, pertengahan adalah urusan yang paling baik dalam segala hal. Oleh karena itu, kita harus menyeimbangkan antara hadiah yang bersifat materi dan maknawi. Hadiah yang bersifat materi seperti, sepeda, jam tangan, penggaris, jika kita melebihi batas, itu akan menjadikan anak bersifat pragmatis atau oportunis yang tidak mau melakukan sesuatu tanpa imbalan yang menguntungkan baginya.
Rasulullah saw bersabda :
“Siapa saja yang membawa sesuatu (sebagai hadiah) untuk keluarganya maka sama saja ia dengan bershadaqah kepada keluarganya sampai ia memberkannya kepada mereka (sampai di tangannya).”
Contohnya, memberikan hadiah kepada anak dengan mengatakan, “Semoga Allah selalu memudahkan jalanmu wahai anakku. Insya Allah, ayah akan membelikanmu jam tangan karena kamu meraih peringkat dua di sekolahmu.”
5. Membacakan Cerita
Cerita dan kasih, baik yang berbentuk kaset, film, atau pun buku sangat disenangi anak. Anak merasa eksis bersama lakon-lakon dari cerita yang disenanginya, dan mengimajinasikan bahwa mereka bisa diajak bicara dan bermain. Oleh sebab itu, orang tua wajib mengambil manfaat dari kesukaan anak tadi. Orang tua bisa menceritakan kepada mereka cerita-cerita yang mendidik, seperti kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Quran, dan kisah-kisah tentang para nabi.


Bukankah Allah telah berfirman dalam Quran-Nya :
 “Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar......”
(Al-Imran [31]: 62
 “kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik....”
(Yusuf [12] :3)
 “sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal........”
(Yusuf [12] :111)
Waktu yang tepat untuk bercerita:
1. Sesuai dengan situasi yang ada.
Orang tua harus bisa memanfaatkan situasi anak dan menceritakan kepadanya cerita yang sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi anak.
2. Sebelum tidur 
Para psikolog menganjurkan para orang tua untuk membacakan dongeng sebelum tidur untuk anaknya karena hal itu banyak mengandung manfaat untuk pendidikan anak.
3. Ketika anak memintanya.
Pada saat inilah anak sedang dalam kondisi 100% siap untuk menangkap apa yang akan ia dapatkan dari cerita yang didengarnya. Bergembiralah para orang tua, jika anaknya meminta mereka bercerita untuknya. Karena hal itu berarti menunjukkan kedekatan anak dengan orang tuanya.
Alangkah baiknya ketika anda bercerita, anda padukan dengan intonasi suara yang sesuai disertai gerakan tubuh yang berirama sesuai dengan isi cerita. Maka dengan demikian, anak akan merasa bahwa lakon yang sedang anda ceritakan benar-benar hidup, dan ia sedang berada di dalam cerita tersebut. Atau lebih baik lagi jika anda menyertakan nama anak anda ke dalam cerita tersebut atau yang semisalnya.
Anda bisa menjadikan cerita sebagai wasilah pendidikan anak. Misalnya, ketika anak berbuat baik maka anda bacakan cerita untuknya. Namun, jika anak nakal, anda bisa memperingatkan dengan tidak akan lagi membacakan cerita.

6. Memaafkannya ketika berbuat salah
Menggugurkan hukuman untuknya ketika berbuat salah, karena ia telah melakukan kebaikan sebelumnya yang lebih besar. Sehingga ia tahu bahwa kebaikan yang dilakukannya itu adalah sesuatu yang bagus yang disenangi kedua orang tuanya. Itu menjadi pendorong baginya untuk semangat melakukan kebaikan yang bisa membuat orang tuanya senang dan ridha kepadanya, yang pada waktu yang sama juga ia merasa aman dari hukuman.
Contohnya, “Ahmad....! karena hafalan Al-Qurannya lancar, ayah tidak akan menghukummu walaupun kamu semalam tidak belajar.”
7. Pujilah anak di depan orang-orang
Memuji anak di depan teman-teman atau pun saudaranya yang lain merupakan wasilah yang paling penting dalam memberikan support yang baik bagi anak. Karena pujian tersebut, membuat anak berbuat baik secara suka rela tanpa paksaan, dan karena demi mewujudkan pujian terhadapanya itu. Maka hal tersebut, menjadi pendorong bagi anak untuk lebih semangat melakukan kebaikan.
Setiap manusia mempunyai fitrah menyukai kata-kata indah terlebih lagi anak-anak. Jangan sekali-kali anda menghina anak, karena menghina, mencela, dan memperolok-oloknya adalah penyebab penyimpangan mental anak. Contohnya, ketika anak kita memukul adiknya yang kecil, kita langsung memanggilnya, “Dasar anak jahat.” Atau ketika kita meminta diambilkan secangkir air minum, kemudiann anak menolak, kita langsung menyebutnya pemalas. Atau ketika anak mengambil barang saudaranya tanpa seizinnya, kita lansung memanggilnya pencuri.

Nasehat Imam Asy-Syafi’i Kepada Muridnya Imam Al-Muzany

Imam Muzany bercerita,”Aku menemui Imam Asy-Syafi’iymenjelang wafatnya, lalu aku berkata,”bagaimana keadaanmu pagi ini , wahai ustadzku?”


Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tau; apakah diriku berjalan ke syurga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan , atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”

Aku(Al-Muzany) berkata, “Nasihatilah aku”.Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku, “Bertaqwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu dan jangan lupa engkau akan berdiri di hadapan Allah. Takutlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah apa-apa yang Dia haramkan, laksanakanlah segala yang Dia wajibkan, hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada. Jadikanlahdiammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai Dzikir dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang mendzolimimu, sambunglah orang yang memutus silaturrahmi kepadamu, berbuat baiklah kepada siapa yang bebuat jelek kepadamu, bersabarlah tehadap segala musibah, berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketaqwaan.”
Aku(Al-Muzany) berkata “Tambahkanlah (nasihatmu) kepadaku.”
Beliau melanjutkan, “Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata pencaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harap adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai jilbabmu, shadaqoh sebagai pelindungmu dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tidak tegesa-gesa sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur’an sebagai pembicaramu dengan kejelasan, jadikanlah Allah sebagai penyejukmu. Siapa yang sifatnya seperti ini maka syurga adalah tempat tinggalnya.”

Kemudian Asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersyair:

Kepada-Mu -wahai Ilâh segenap makhluq, wahai pemilik anugerah dan kebaikan-,
Kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa.
Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku,
kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku
Kurasa dosaku teramatlah besar, namun tatkala dosa-dosa itu
kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar

Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus-menerus
Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan.
Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh iblis
Bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu, Adam.

Kalaulah Engkau memaafkan aku, maka Engkau telah memaafkan
Seorang yang congkak, zholim lagi sewenang-wenang, yang masih terus berbuat dosa.
Andai kata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa,
walaupun diriku telah Engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku.
Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang, namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar.”

[Tarikh Ibnu Asâkir juz 51 hal. 430-431]
Sumber: Majalah An-Nashihah vol.13 thn 1429 H/2008 M

Kisah Tawakal Seorang Buta Mendapatkan Istri Yang Cantik

Karena kekurangan fisik yang pemuda itu miliki banyak wanita yang menolak lamaranya. Juga karena kefakiranya dan berasal dari keluarga miskin.
Syekh yang mengenal pemuda ini menceritakan,
” dia seorang pemuda yang menghafal al Qur’an, tumbuh sebagai orang yang soleh dan taat kepada Allah.menundukan pandangan dari hal – hal haram.”
Aku bertanya padanya,
” wahai anakku kenapa kamu belum menikah? bahagiakan hidupmu dan mintalah pada Allah.” kebiasaan orang Arab memanggil anak orang lain/ yang lebih muda dengan panggilan ” ya walady”.
Pemuda itu kemudian menjawab,
“ wahai syekh bagaimana saya bisa menikah, saya orang yang sangat fakir, kedua orang tuapun fakir, tidak ada yang lebih fakir melebihi kefakiran keluarga saya. Saya terlahir sebagai orang buta, pendek lagi fakir memiliki banyak cacat. Sifat – sifat indah dan gagah yang diidamkan setiap wanita tidak ada dalam diri saya. Siapa yang mau menikah dengan orang seperti saya.”
“ sungguh hati ini sangat rindu ingin menikah, harapan begitu besar  ingin membangun rumah tangga. Karena itu, keinginan untuk menikah terkadang hilang. Tapi, kepada Allahlah saya mengadu atas keadaan yang menyedihkan ini.”
“ kemudian saya datang pada orang tua saya, dan berkata, wahai ayah saya ingin menikah. Ayah saya kemudian tertawa mendengar keinginan saya untuk menikah. Ayah berkata, apa kamu gila nak, siapa yang mau menikah denganmu, pertama kamu itu buta, kedua, kita ini orang fakir yang tidak memiliki apa – apa, maka hargailah dirimu sendiri.”
” mendapat jawaban seprti itu saya mendatangi ibu, hampir – hampir mata ingin menangis dan tidak mampu menahannya, saya berharap ibu memberikan harapan dan tidak memberikan jawaban yang sama. Tapi ternyata ibu mengatakan persis seperti kata ayah.”
Ibu menjawab, wahai anakku apakah kamu telah kehilangan akal, kamu mau menikah? Dari mana mendapatkan uang untuk biaya pernikahan sedang kita sendiri sangat membutuhkanya. Para penagih hutang datang ke rumah kita siang dan malam.”
Selama beberapa hari pemuda ini terus meminta persetujuan dari orang tuanya, tapi rasa putus asa sudah menghampiri ibu dan bapaknya. Merasa tidak mendapatkan jalan keluar dari orang tuanya, dia mengadu kepada Allah swt, dia sadar, kenapa tidak meminta pada Allah yang maha mampu sedang orang tuaku tidak mampu, kenapa tidak meminta kepada Allah yang maha penyayang, pemuda itu kemdian solat dan berdoa pada Allah,
“wahai Tuhanku, mereka bilang kalau aku ini fakir, sedan engkaulah yang menjadikan hamba fakir.”
“ mereka bilang aku  buta, sedang engkaulah yang menjadikan hamba buta. Mereka bilang kalau aku cacat, engkaulah yang menciptakan rupaku seperti ini.”
“ Ya Allah Ya Tuhanku yang tidak ada tuhan selain engkau, kau mengetahui keadaan hambamu ini, sangat ingin menikah tapi tidak menemukan jalan dan cara kerena kelemahan hamba, berikanlah aku istri yang solehah lagi penuh berkah, yang bisa menenangkan jiwa ini,”
Kedua mata pemdua itu menangis tersedu – sedu di hadapan Tuhanya yang maha mulia. Allah sangat malu kepada hambaNya yang meminta dengan tulus, Dialah Allah yang maha penyayang terhadap orang yang beriman. Allah mendengar rintihan hati hambaNya.
Karena ngantuk pemuda ini kemudian tertidur, dan mendapatkan mimpi yang indah. Dia bermipi ada di suatu tempat yang sangat panas, seakan api menyala – nyala. Setelah itu sebuah kemah turun di atasnya, kemah yang sangat indah mentupi pandangan mata di atasnya, seketika hawa berubah menjadi sangat dingin,
Dia tidak mampu menahan rasa dingin itu, kemudian terbangun karena kedinginan padahal sebelumnya merasa sangat panas. Pemuda ini tersenyum mendapatkan mimpi itu. Kemudian datang pada salah seorang syekh yang pintar menakwilkan mimpi. Dia menceritakan mimpinya dan bertanya apa arti mimpi.
Orang yang didatanginya itu kemudian berkata,
“ wahai anakku, apakah kamu sudah menikah atau belum?”
“ wallahi saya belum menikah.” Jawab pemuda itu
“ kenapa kamu belum menikah?”
“ siapa yang sudi menikah dengan saya, kau sudah tau keadaanku yang buta dan fakir.”
“ wahai anakku apakah tadi malam kamu mengetuk pintu – pintu Allah?”
“ benar, tadi malam saya berdoa miminta pada Allah dengan sungguh.”
“ kalau begitu, pergilah cari wanita yang paling cantik menurutmu kemudian lamar, karena sesungguhnya pintu itu sudah terbuka untukmu, Allah akan memberikanmu jalan yang mudah, siapkan dirimu dengan baik, pergilah dan jangan merendahkan diri sendiri dengan mengatakan kamu buta, fakir dan lainya.”
Pemuda itu kemudian berpikir sejenak siapa wanita paling cantik yang ia ketahui, dia tidak mengingat kecuali satu wanita dari keluarga yang paling mulia dan kaya di daerahnya. Seorang wanita cantik dan mulia.
Dia meminta kepada bapaknya agar mau melamarkan gadis cantik itu untuknya, tapi bapaknya menolak dan malu, karena keadaan anaknya dan keluarga yang sangat miskin. Malu  melamar gadis cantik dari keluarga kaya dan mulia. bagi bapaknya itu mustahil.
Pemuda yang berumur 24 tahun ini akhirnya pergi seorang diri ke rumah gadis cantik yang dia inginkan. Dia mengucapkan salam pada keluarga itu dan dipersilahkan masuk. Keluarga gadis cantik itu menyambutnya dengan hangat dan ramah. Dengan berani dia mengutarakan maksud kedatanganya hendak melamar putri keluarga kaya itu, kemudian dijawab,
“ kamu menginginkan putri saya?”
“ iya pak.”
“ nak, saya tidak melihat dalam diri kamu kecuali kebaikan, tidak ada pemuda yang lebih baik selain kamu. Tapi,, saya harus bertanya dulu pada putri saya.” Kemudian bapak itu masuk menemui putrinya, dan berkata,
“ wahai putriku, ini seorang pemuda datang ingin melamarmu, memang benar kalau dia orang yang buta, tapi penghafal al Qur’an, dadanya penuh dengan al Qur’an. Kalau kamu melihat itu baik maka tawakkal saja pada Allah.”
Putrinya yang cantik itu menjawab,
“ wahai ayah, aku tidak bisa menolak permintaanmu, aku hanya akan bertawakal pada Allah.”
Beberapa minggu kemudian lelaki buta soleh itu menikah dengan gadis yang paling cantik dan mulia.
Ketahuilah rahmat Allah sangat luas, Dia telah memberikanmu begitu banyak kebaikan, lantas kenapa harus putus asa karena keadaan yang dimata kita buruk. Allah maha kaya mintalah pada Allah. Dialah Allah yang telah menggerkan hati ayah gadis cantik itu untuk mau menikahkan dia dengan pemdua buta..
Sesungguhnya Allah memuliakan hamba yang selalu mengingat Allah dan lisanya basah karena membaca al Qur’an. Ma’at taufik was sadaad lakum jami’an.

KISAH LUQMAN AL-HAKIM DAN KELEDAI

(SESEORANG TIDAK AKAN LEPAS DARI PEMBICARAAN ORANG LAIN)


Pernahkah anda merasakan berada dalam lingkungan dimana semua orang membicarakan anda, apa yang anda lakukan selalu saja mengundang gunjingan negatif....??  Tidak nyaman bukan???

berikut akan diceritakan suatu kisah yang sudah masyhur, kisah Luqman AL-Hakim dan Keledai, tapi alangkah baiknya kita mengenal sedikit siapa itu Luqman Al-Hakim. Luqman Al-Hakim adalah seseorang yang istimewa, yang namanya Alloh abadikan dalam Alquran. Beliau bukanlah nabi atau rosul, tapi pola didik terhadap anaknya patut dijadikan panutan. Dialah Luqman Al hakim.

Banyak perbedaan pendapat dari kalangan ulama mengenai siapa sesungguhnya Luqman Al Hakim. Ibnu Katsir mengatakan bahwa "Luqman adalah seorang lelaki sholeh, ahli ibadah dengan pengetahuan dan hikmah yang luas." Ibnu katsir juga mengatakan bahwa "Luqman Al Hakim didalam Al Quran adalahLuqman bin Unaqa' bin Sadun." Ada juga yang mengatakan dia adalah Luqman bin Sarad sebagaimana dikisahkan oleh Ali Suhaili dari Jarir dan Al Khuzaimi.

Ibnu Khatim mengatakan bahwa "Abu Zur'ah Shafwan bin Walid, Abdurrahman bin Yazid telah bercerita kepada kami dan Jabir berkata "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Luqman Al Hakim dengan Hikmahnya. Seorang lelaki yang sudah mengenal dirinya dan sebelumnya pernah melihatnya didalam sebuah majelis bertanya kepadanya "Bukankah engkau budak dari bani fulan yang menggembalakan kambing kemarin. Luqman menjawab "Ya" Lelaki itu berkata "Apa yang membawaku menyaksikanmu hari ini?" Luqman berkata "Takdir Allah, menunaikan amanah, jujur dalam perkataan dan meninggalkan apa-apa yang tidak berguna." (Tafsir Al Quran Al Azhim Juz 12 hlm 333-335) 

Allah Azza wa Jalla telah mengangkat Lukman Al Hakim dengan hikmahnya. Untuk itu Luqman dijuluki dengan Ahlul Hikmah. Mungkin kita sudah sering mendengar kata hikmah. Namun pada hakikatnya kita sering meleset akan arti hikmah tersebut. Hikmah adalah kemampuan memecahkan masalah dan mampu mencari solusi terbaik dari suatu masalah. Sehingga hasil dari hikmah itu adalah kemaslahatan bagi orang tersebut.

Ada beberapa ayat dalam Alquran yang mengabadikan pelajaran Luqman terhadap anaknya, salah satunya adalah firman Allah :

ÙˆَØ¥ِذْ Ù‚َالَ Ù„ُÙ‚ْÙ…َانُ لابْÙ†ِÙ‡ِ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ ÙŠَعِظُÙ‡ُ ÙŠَا بُÙ†َÙŠَّ لا تُØ´ْرِÙƒْ بِاللَّÙ‡ِ Ø¥ِÙ†َّ الشِّرْÙƒَ Ù„َظُÙ„ْÙ…ٌ عَظِيمٌ 

Artinya:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
(QS. Luqman: 13).
  
Kembali ke kisah inti yang akan diceritakan, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa pada suatu hari Luqman al-Hakim bersama anaknya pergi ke pasar dengan menaiki seekor Keledai. Ketika itu Luqman naik di punggung Keledai sementara anaknya megikuti di belakangnya dengan berjalan kaki. Melihat tingkah laku Luqman itu, ada orang yang berkata, “Lihat itu orang tua yang tidak merasa kasihan kepada anaknya, dia enak-enak naik keledai sementara anaknya disuruh berjalan kaki.” Setelah mendengarkan gunjingan orang orang, maka Luqman pun turun dari keledainya itu lalu anaknya diletakkan di atas keledai tersebut. Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, “Hai, kalian lihat Situ ada anak yang kurang ajar. Orang tuanya disuruh berjalan kaki, sedangkan dia enak-enaknya menaiki keledai.”
Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas punggung keledai itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang-orang juga ribut menggunjing, “Hai teman-teman, lihat itu ada dua orang menaiki seekor keledai. Kelihatannya keledai itu sangat tersiksa, kasihan ya.” Oleh karena tidak suka mendengar gunjingan orang-orang, maka Luqman dan anaknya turun dari keledai itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, “Hai, lihat itu. Ada dua orang berjalan kaki, sedangkan keledai itu tidak dikenderai. Untuk apa mereka bawa keledai kalau akhirnya tidak dinaiki juga.”

Ketika Luqman dan anaknya dalam perjalanan pulang ke rumah, Luqman al-Hakim menasihati anaknya tentang sikap orang-orang dan keusilan mereka tadi.

Luqman berkata, “Sesungguhnya kita tidak bisa terlepas dari gunjingan orang lain.”
Anaknya bertanya, “Bagaimana cara kita menanggapinya, Ayah?”

Luqman meneruskan nasihatnya, “Orang yang berakal tidak akan mengambil pertimbangan melainkan hanya kepada Allah Swt. Barang siapa mendapat petunjuk kebenaran dari Allah, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam mengambil keputusan.”

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, “Wahai anakku, carilah rizki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya orang fakir itu akan tertimpa tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya). Lebih dari sekedar tiga perkara itu, orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan menyepelekannya.”

dari kisah diatas semoga kita bisa mendapat pelajaran yang berharga, selama apa yang kita lakukan itu diiringi niat baik, keikhlasan dalam berproses dan tidak melanggar syari'at, maka omongan orang tentang apa yang kita perbuat tidak usah diambil hati dan tidak perlu khawatir. bahkan jangan sampai omongan negatif orang pada kita mendorong kita menjadi malas melakukan pekerjaan, minder / rendah diri, tidak bersemangat lagi dan mendorong kita melakukan hal-hal yang tidak terpuji lainnya. jadikan semua itu sebagai batu ujian yang bisa kita jadikan pijakan untuk melangkah lebih jauh lagi.  Kalaupun khawatir, khawatirlah  jika yang kita lakukan itu jelek dimata Allah dan mengundang murka Allah, naudzubillah....

wallohu "alam bisshowab...
semoga bermanfaat..:)

dari  beberapa sumber dengan tambahan dari pemilik blog

Gambar diambil dari : http://www.grazera.com/anak-dan-remaja/seri-kisah-teladan-luqman-al-hakim-dan-keledai-39985.html
Sumber http://harian-hikmah.blogspot.co.id/2015/06/kisah-luqman-al-hakim-dan-keledai.html

Nabi Musa dan Al-Khidhir

Pada suatu ketika berpidatolah Nabi Musa di depan kaumnya Bani Isra'il. Ia berdakwah kepada mereka, memberi nasihat dengan mengingatkan kepada mereka akan kurnia dan nikmat Allah yang telah dicurahkan kepada mereka yang sepatutnya diimbangi dengan syukur dan pelaksanaan ibadah yang tulus, melakukan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Kepada mereka yang beriman, bertaat dan bertakwa, Nabi Musa menjanjikan pahala syurga dan bagi mereka yang mengingkari nikmat Allah diancam dengan seksa api neraka.


Begitu Nabi Musa mengakhiri pidatonya bangunlah di antara para hadiri bertanya kepadanya: "Wahai Musa, siapakah di atas bumi Allah ini paling pandai dan paling berpengetahuan?" "Aku", jawab Musa. Apakah tidak ada kiranya orang yang lebih pandai dan lebih berpengetahuan daripadamu?" Tanya lagi si penanya itu. "Tidak ada" , ujar Musa seraya berkata dalam hati kecilnya: " Bukankah aku Nabi terbesar di antara Bani Isra'il? Aku adalah penakluk Fir'aun, pemegang berbagai mukjizat, yang telah dapat membelah laut dengan tongkatku dan akulah yang memperoleh kesempatan bercakap-cakap langsung dengan Tuhan. Maka kemuliaan apa lagi yang dapat melebihi kemuliaan serta kebesaran yang aku capai itu, yang belum pernah dialami dan dicapai oleh sesiapa pun sebelum aku."

Rasa sombong dan keunggulan diri yang tercermin dalam kata-kata Nabi Musa, dicela oleh Allah yang memperingatkan kepadanya bahwa ilmu itu adalah lebih luas untuk dimiliki oleh seseorang walaupun ia adalah seorang rasul dan bahwa bagaimana luasnya ilmu dan pengetahuan seseorang, nescaya akan terdapat orang lain yang lebih pandai dan lebih alim daripadanya. Selanjutnya untuk melanjutkan kekurangan yang ada pada diri Nabi Musa Allah memerintahkan kepadanya agar menemui seorang hamba-Nya di suatu tempat di mana dua lautan bertemu. Hamba yang soleh yang telah diberinya rahmat dan ilmu oleh Allah itu akan memberi tambahan pengetahuan dan ilmu kepada Nabi Musa sehingga dapat menjadikan sedar bahwa tiada manusia yang dapat membanggakan diri dengan mengatakan bahwa akulah orang yang terpandai dan berpengetahuan luas di atas bumi ini.

Berkata Musa kepada Tuhan: "Wahai Tuhanku, aku akan pergi mencari hamba-Mu yang soleh itu, bagi memperolehi bunga api ilmunya dan mendapat titisan air pengetahuan dan ilham yang Engkau telah berikan kepadanya."
Allah berfirman kepada Musa: "Bawalah seekor ikan didalam sebuah keranjang dalam perjalananmu mencari dia dan ketahuilah bahwa di tempat di mana engkau akan kehilangan ikan di dalam keranjang itu, di situ engkau akan menemui hamba-Ku yang soleh itu." Nabi Musa menyiapkan diri untuk perjalanan yang jauh, didampingi oleh "Yusya' bin Nun" seorang drp para pengikutnya yang setia. Ia membawa bekal makanan dan minuman di antaranya sebuah keranjang yang terisi seekor ikan sesuai dengan petunjuk Allah. Ia berkeras hati tidak akan kembali sebelum ia dapat menemui hamba yang soleh itu walaupun ia harus melakukan perjalanan yang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun bila perlu. Ia berpesan kepada teman sepejalanannya Yusya' bin Nun agar segera memberitahu kepadanya bilamana ikan yang di dalam keranjang yang dibawanya itu hilang.

Tatkala Nabi Musa nerserta Yusya' bin Nun sampai di mana dua lautan bertemu yang telah diisyaratkan dalam firman Allah kepadanya, tertidurlah ia di atas sebuah batu yang besar yang berada di tepi lautan. Pada saat ia lagi tidur nyenyak, turunlah hujan rintik-rintik, membasahi seekor di dalam keranjang itu dan tanpa mereka ketahui melompatlah ikan tersebut itu masuk ke dalam laut.
Setelah Musa terjaga dari tidurnya, bangunlah mereka meneruskan perjalanan yang tidak menentu arah mahupun tujuan. Dan dalam perjalanan yang sudah agak jauh, berhentilah Musa beristirehat sekadar untuk menghilangkan rasa penatnya seraya meminta dari Yusya bin Nun agar menyiapkan santapannya karena ia sudah sgt lapar. Ketika Yusya bin Nun membuka keranjang untuk mengambil makanan teringatlah olehnya akan ikan yang hilang dan melompat ke dalam laut. Maka berkatalah Yusya' kepada Nabi Musa: "Aku telah dilupakan oleh syaitan untuk memberitahu kepadamu segera, bahwa tatkala engkau berada di atas batu karang sedang tidur nyenyak, ikan kami yang berada di dalam keranjang tiba-tiba hidup kembali setelah kejatuhan air hujan dan melompat masuk ke dalam laut. Sepatutnya aku melapurkan kkepadamu segera, sesuai dengan pesananmu, namun aku dilupakan oleh syaitan."

Wajah Nabi Musa berseri-seri menjadi kegirangan mendengar berita itu dari Yusya' karena telah dapat mengetahui di mana ia akan dapat bertemu dengan hamba Allah yang dicari itu. Berkata Musa kepada Yusya': "Inilah tempat yang kami tuju dan disini kami akan menemui orang yang kami cari. Marilah kami kembali ke tempat batu karang itu yang menjadi tempat tujuan terakhir dari perjalanan kami yang jauh ini."
Setiba mereka kembali di tempat di mana mereka kehilangan ikan, mereka melihat seorang bertubuh kurus langsing yang pada wajahnya tampak cahaya dan iman serta tanda-tanda orang soleh. Ia sedang menutpi tubuhnya dan pakaiannya sendiri, yang segera disingkapnya ketika mendengar kata-kata salam Nabi Musa kepadanya.

"Siapakah engkau?" bertanya orang soleh itu. Musa menjawab: "Aku adalah Musa." Bertanya kembali orang soleh itu: "Musa, nabi Bani Isra'ilkah?"
"Betul", jawab Musa, seraya bertanya: "Dari manakah engkau mengetahui bahawa aku adalah Nabi Bani Isra'il?"
"Dari yang mengutusmu kepadaku", jawab orang soleh itu. "Inilah hamba Allah yang aku cari", berkata Musa dalam hatinya, seraya mendekatinya dan berkata kepadanya: "Dapatkah engkau memperkenankan aku mengikutimu dan berjalan bersamamu ke mana saja engkau pergi sebagai bayanganmu dan sebagai muridmu? Aku akan mematuhi segala petunjuk dan perintahmu."

Hamba soleh atau menurut banyak pendapat ahli-ahli tafsir Nabi Al-Khidhir itu menjawab: "Engkau tidak akan sabar dan tidak dapat menahan diri bila engkau mengikutiku dan berjalan bersamaku. Engkau akan mengalami dan melihat hal-hal yang ajaib yang sepintas lalu nampak seakan-akan perbuatan yang salah dan mungkar namun pada hakikatnya adalah perbuatan benar dan wajar dab engkau sebagai manusia tidak akan berdiam diri melihatku melakukan perbuatan dan tingkah laku yang ganjil menurut pandanganmu."

Musa menjawab dengan sikap seorang murid yang ingin belajar dan menambah pengetahuan : "Insya-Allah engkau akan mendapati aku seorang yang sabar yang tidak akan melanggar sesuatu perintah atau petunjuk daripadamu."
Berkata Al-Khidhir kepada Musa: "JIka engkau benar-benar ingin mengikutiku dan berjalan bersamaku maka engkau harus berjanji tidak akan mendahului bertanya tentang sesuatu sebelum aku memberitahukan kepadamu. Engkau harus berjanji bahwa engkau tidak akan menentang segala perbuatan dan tindakan yang aku lakukan dihadapan mu walaupun menurut pandanganmu itu salah dan mungkar. Aku dengan sendirinya memberi alasan dan tafsiran bagi segala tindakan dan perbuatanmu kepadamu kelak pada akhir perjalanan kami berdua."

Dengan diterimanya pesyaratan Nabi Al-Khidhir oleh Musa yang berjanji akan mematuhinya bulat-bulat, maka diajaklah Nabi Musa mengikutinya dalam perjalanan.
Pelanggaran pertama terhadap persyaratan Al-Khidhir terjadi tatkala mereka sampai di tepi pantai, di mana terdapat sebuah perahu sedang berlabuh. Nabi Al-Khidhir meminta pertolongan pemilik perahu itu, agar menghantar mereka di suatu tempat yang di tuju. Dengan senang hati diangkutlah mereka berdua secara percuma tanpa bayaran bahkan dihormati dan diberi layanan yang baik kerana dilihatnya oleh pemilik perahu bahwa kedua orang itu memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri yang tidak terdapat pada orang biasa.

Tatkala mereka berada dalam perut perahu yang sedang meluncur dengan lajunya di antara gelombang-gelombang tiba-tiba Musa melihat Al-Khidhir melubangi perahu itu dengan mengambil dua keping kayunya. Perbuatan mana yang dianggap oleh Musa suatu gangguan dan pengrusakan bagi milik seseorang yang telah berbuat baik terhadap mereka.
Musa lupa akan janjinya sendiri dan ditegulah Al-Khidhir dengan berkata: "Engkau telah melakukan perbuatan mungkar dengan merusak dan melubangi perahu ini. Apakah dengan perbuatan kamu ini engkau hendak menenggelamkan perahu ini dengan semua penumpangnya? Tidakkah engkau merasa kasihan kepada pemilik perahu ini yang telah berjasa kepada kami dan menghantarkan kami ke tempat yang kami tuju tanpa membayar sesen pun?"

Berkata Al-Khidhir menjawab teguran Musa: "Bukankah aku telah katakan kepadamu bahawa engkau tidak akan sabar menahan diri melihat tindak-tandukku di dalam perjalanan menyertaiku."
Musa berkata: "Maafkanlah daku. Aku telah lupa akan janjiku sendiri. Janganlah aku dipersalahkan dan dimarahi akan kelupaanku."
Permintaan maaf Musa diterimalah oleh Al-Khidhir dan tibalah meeka berdua di tempat yang dituju di sebuah pantai. Kemudian perjalanan dilanjutkan di darat dan bertemulah mereka dengan seorang anak laki-laki yang sedang bermain-main dengan kawan-kawannya. Tiba-tiba dipanggillah anak itu oleh Al-Khidhir, dibawanya ke tempat yang agak jauh, dibaringkannya dan dibunuhnya seketika itu. Alangkah terperanjatnya Musa melihat tindakan Al-Khidhir yang dengan sewenang-wenangnya telah membunuh seorang anak yang tidak berdosa, seorang yang mungkin sekali dalam fikiran Musa adalah harapan satu-satunya bagi kedua orang tuanya.

Musa sebagai Nabi yang diutus oleh Allah untuk memerangi kemungkaran dan kejahatan tidak dapat berdiam diri melihat Al-Khidhir melakukan pembunuhan yang tiada beralasan itu, maka ditegurlah ia seraya berkata: "Mengapa engkau telah membunuh seorang anak yang tidak berdosa? Sesungguhnya engkau telah melakukan perbuatan yang mungkar dan keji."
Al-Khidhir menjawab dengan sikap dinginnya: "Bukankah aku telah berkata kepadamu, bahwa engkau tidak akan sabar menahan diri berjalan dengan aku?"

Dengan rasa malu mendengar teguran Al-Khidhir itu, berucaplah Musa: "Maafkanlah aku untuk kedua kalinya dan perkenankanlah untuk aku meneruskan perjalanan bersamamu dengan pergertian bahwa bila terjadi lagi perlanggaran dari pihakku untuk kali ketiganya, maka janganlah aku diperbolehkan menyertaimu seterusnya.Sesungguhnya telah cukup engkau memberi uzur dan memberi maaf kepadaku."
Dengan janji terakhir yang diterima oleh Al-Khidhir dari Musa diteruskanlah perjalanan mereka berdua sampai tiba di suatu desa di mana mereka ingin beristirehat untuk menghilangkan lelah dan penat mereka akibat perjalanan jauh yang telah ditempuh. Mereka berusaha untuk mendapat tempat penginapan sementara dan sedikit bahan makanan untuk sekadar mengisi perut kosong mereka, namun tidak seorang pun dari penduduk desa yang memang terkenal bachil {pelit} itu yang mahu menolong mereka memberi tempat beristirehat atau sesuap makanan sehingga dengan rasa kecewa mereka segera meninggalkan desa itu.

Dalam perjalanan Musa dan Al-Khidhir hendak keluar dari desa itu mereka melihat dinding salah satu rumah desa itu nyaris roboh. Segera AL-Khidhir menghampiri dinding itu dan ditegakkannya kembali. Dan secara spontan, tanpa disedar, berkata Musa kepada Al-Khidhir: "Hairan bin ajaib, mengapa engkau berbuat kebaikan bagi orang0orang yang jahat dan pelit ini. Mereka telah menolak untuk memberi kepada kami tempat istirehat dan sesuap makanan untuk perut kami yang lapar. Sepatutnya engkau menuntut upah bagi usahamu menegakkan dinding itu, agar dengan upah yang engkau perolehi itu dapat kami menutupi keperluan makan minum kami."

Al-Khidhir menjawab: "Wahai Musa, inilah saat untuk kami berpisah sesuai dengan janjimu yang terakhir. Cukup sudah aku memberimu kesempatan dan uzur. Akan tetapi sebelum kami berpisah , akan aku berikan kepadamu tujuan serta alasan-alasan perbuatan-perbuatanku yang engkau rasakan tidak wajar dan kurang patut."
"Ketahuilah hai Musa", Al-Khidhir melanjutkan huraiannya,"bahawa pengrusakan bahtera yang kami tumpangi itu adalah dimaksudkan untuk menyelamatkannya dari pengambil-alihan oleh seorang raja yang zalim yang sedang mengejar di belakang bahtera itu. Sedang bahtera itu adalah milik orang-orang fakir-miskin yang digunakan sebagai sarana mencari nafkah bagi hidup mereka sehari-hari. Dengan melubangi yang aku lakukan dalam bahtera itu, si raja yang zalim itu akan berfikir dua kali untuk merampas bahtera itu yang dianggapnya rusak dan berlubang itu. Maka perbuatanku yang pada lahirnya adalah pengrusakan milik orang, namun tujuannya ialah menyelamatkannya dari tindakan perampasan sewenang-wenangnya."

"Adapun tentang anak yang aku bunuh itu ialah bertujuan menyelamatkan kedua orang tuanya dari gangguan anak yang durhaka itu. Kedua orang tua anak itu adalah orang-orang yang mukmin, soleh dan bertakwa yang aku khuatirkan akan menjadi tersesat dan melakukan hal-hal yang buruk karena dorongan anaknya yang durhaka itu. Aku harapkan dengan matinya anak itu Allah akan mengurniai anak pengganti yang soleh dan berbakti kepada mereka berdua."
Sedang mengenai dinding rumah yang ku perbaiki dan ku tegakkan kembali itu adalah karena dibawahnya terpendam harta peninggalan milik dua orang anak yatim piatu. Ayah mereka adalah orang yang soleh ahli ibadah dan Allah menghendaki bahwa warisan yang ditinggalkan untuk kedua anaknya itusampai ketangan mereka selamat dan utuh bila mereka sudah mencapai dewasanya, sebagai rahmat dari Tuhan serta ganjaran bagi ayah mereka yang soleh dan bertakwa itu."

"Demikianlah wahai Musa, apa yang ingin engkau ketahui tentang tujuan tindakan-tindakanku yang sepintas lalu engkau anggap buruk dan melanggar hukum. Semuanya itu telah kulakukan bukan atas kehendakku sendiri tetapi atas tuntunan wahyu Allah kepadaku."





Kisah Musa dan Al-Khidir ini dapat dibaca dalam surah "Al-Kahfi" ayat 60 sehingga ayat 82 yang bermaksud :~
"60~ Dan {ingatlah} ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." 61~ Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. 62~ Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." 63~ Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali." 64~ Musa berkata: "Itulah tempat yang kita cari." Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka sendiri. 65~ Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. 66~ Musa berkata Al-Khidhir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" 67~ Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sesekali kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku, 68~ dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" 69~ Musa berkata: "Insya-Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." 70~ Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." 71~ Maka berjalanlah keduanya, hingga keduanya menaiki perahu, lalu Al-Khidhir melubanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpamgnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. 72~ Dia {Al-Khidhir} berkata: "Bukankah aku telah katakan: "Sesungguhnya kamu sesekali tidak akan sabar bersama dengan aku." 73~ Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku kerana kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," 74~ Maka berjalanlah keduanya hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang pemuda maka Al-Khidhir membunuhnya. Musa berkata : "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan kerana dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." 75~ Al-Khidhir berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" 76~ MUsa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah {kali ini} maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku." 77~ Maka keduanya berjalan hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mahu menjamu mereka kemudian keduanya dapati dalam negeri itu ada dinding rumah yang hampir roboh, maka Al-Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mahu nescaya kamu akan mengambil upah untuk itu." 78~ Al-Khidhir berkata : "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu kelak akan ku beritahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. 79~ Adapun bahter itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu kerana di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. 80~ Dan ada pun anak muda itu maka kedua orang tuanya adlah orang-orang mukmin dan kami khuatir bhe dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. 81~ Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya {kepada ibubapanya}. 82~ Adapun dinding rumah itu kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu sedang ayahnya adalah seorang yang soleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu dan bukanlah aku melakukannnya itu menurut kemahuanku sendiri. Demikianlah itu adlah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya." { Al-Kahfi : 60 ~ 82 }

Model Pengajaran dan Pembelajaran Imam-imam Mazhab



Al- Imam as- Syafei dilahirkan pada bulan Rejab tahun 150 H bersamaan tahun 767 M, di satu tempat bernama Ghuzzah, di wilayah Palestin tidak jauh dari Baitul Maqdis. Keturunan daripada pihak ayahnya ialah Muhammad bin Idris bin al- Abbas bin Uthman bin Syafi’ bin Assib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Abdul Muttalib bin Abd Manaf. Beliau ialah seketurunan dengan Nabi Muhammad kerana Abd Manaf , datuk ketiga kepada Nabi Muhammad menjadi datuk kesembilan kepada Imam Syafei. Imam as-Syafei dikenali dengan panggilan Abu Abdullah sejak kecil lagi,setelah menjadi ulama yang terkenal, maka beliau dikenali dengan panggilan Imam as- Syafei. Beliau adalah antara imam mazhab yang keempat, iaitu pengasas Mazhab Syafei. Imam as- Syafei meninggal dunia pada tahun 204 Hijrah bersamaan tahun 820 Masihi ketika berusia 54 tahun dan dikebumikan di Arafah, Mesir. Kewibawaannya sebagai seorang guru yang berpengaruh terserlah ketika beliau masih kecil lagi. Hal ini terbukti apabila beliau membacakan ayat- ayat suci al-Quran yang telah memberikan kesan mendalam kepada pendengarnya sehingga semuanya dapat menghayati
maksud al- Quran dan disusuli dengan titisan air mata kesedaran. Antara kaedah pengajaran yang telah dilakukan oleh Imam As-Syafie dalam pengajarannya adalah seperti berikut: 
1) Secara kuliah
Semasa menetap di Makkah, pemusatan pengajarannya ialah di Masjidil Haram (Muhammad Abu Zuhrah, 1367). Beliau mengajar dengan duduk di atas kerusi dan dikelilingi oleh murid- muridnya. Masa ini merupakan saat- saat yang paling subur dalam keilmuannya, di mana Imam as- Syafei menumpukan pemikiran dalam kuliahnya dan bersama murid- muridnya mencari jalan pengeluaran hukum yang ganjil dan membandingkan antara sumber perundangan yang pelbagai. Selama Sembilan tahun, Imam as- Syafei menghabiskan masanya di Makkah bersama- sama para ilmuan yang lain, membahas , mengajar, mengkaji di samping berusaha melahirkan satu intisari dari beberapa aliran dan juga persoalan yang sering bertentangan yang ditemui pada masa itu.Baca lebih lanjut